Renungan

Tutupan dari Allah

Syaikh Ibnu ‘Atho`illah berkata, “Tutup Allah itu terbagi dua, Tertutup dari berbuat ma`shiat (dosa) dan tertutup dalam perbuatan ma`shiat (dosa). Manusia pada umumnya minta kepada Allah supaya ditutupi dalan perbuatan dosa karena kuatir jatuh kedudukannya di dalam pandangan manusia, tetapi orang-orang yang khusus meminta kepada Allah supaya ditutupi dari ma`shiat (dosa), jangan sampai berbuat dosa karena takut jatuh dalam pandangan Allah.”

Sitrullah atau Tutupan Allah itu bermacam-macam. Ada manusia yang Allah anugerahi kewibawaan, yang sebenarnya penutup untuk menyembunyikan kehinaannya dari manusia lain. Ada pula yang Allah anugerahi kecerdasan yang merupakan tutup atas kebodohannya. Segala anugerah itu adalah tutup dari Allah untuk menyembunyikan segala kelemahan manusia.

Pada hakikatnya, tidak ada manusia yang kaya di hadapan Allah. Tidak ada manusia yang berilmu di hadapan Allah. Segala harta, ilmu, kedudukan dsb, merupakan anugerah yang Allah pakaikan kepada manusia. Allah Mahamengetahui aib orang-orang mulya. Namun Allah menutupi sebagian aib mereka. Ada yang ditutupi di dunia saja, ada pula yang ditutupi di dunia dan di akhirat. Ada yang di dunia dibuka aibnya, namun Allah menutup aibnya seakan-akan ia tak pernah melakukannya di hadapan Allah.

Maghfirah juga berarti sitr atau tutupan. Maghfiratullah atau Maghfirah dari Allah merupakan tutupan bagi dosa-dosa kita. Orang yang mendapat maghfirah dari Allah berarti Allah menutupi dosa-dosanya dari pandangan Allah, artinya Allah tidak lagi memandang orang itu sebagai orang yang berdosa. Seringkali Allah tidak hanya menutupi dosa-dosanya dari pandangan-Nya, tetapi juga dari pandangan manusia. Allah menutupi malam dengan siang, dan menutupi siang dengan malam. Allah menutupi dosa manusia dengan ibadah dan kedudukan mulya.

Para ulama adalah mereka yang sangat takut kepada Allah. Mereka sadar bahwa kedudukan mereka di mata masyarakat hanyalah Sitrullah yang menutupi segala kehinaan dan kelemahan mereka. Maka mereka menangis ketika mengenang dosa-dosa mereka dan bersyukur atas Sitrullah yang mereka dapatkan. Lalu mereka beristighfar, memohon maghfirah dari Allah, agar Allah berkenan memandang mereka bukan sebagai pendosa.

Syaikh Ibnu ‘Atho’illah mengungkapkan, “Siapa yang menghormatimu, sebenarnya hanya menghormati tutup Allah kepadamu. Karena itu, seharusnya pujian itu hanya untuk Allah yang menutupi (kesalahan) engkau.”

Sungguh, sebaik-baik sitr adalah taqwa. Taqwa merupakan pakaian terbaik untuk menutupi segala kehinaan manusia. Semulya-mulya manusia di hadapan Allah bukanlah mereka yang terbaik ghamisnya ataupun imamahnya. Jika ghamis dan imamah dapat menutupi dosa-dosa manusia dari pandangan Allah, mungkin ummat Islam akan berlomba-lomba dalam ghamis dan imamah. Namun, semulya-mulya manusia di hadapan Allah adalah yang terbaik taqwanya. Maka beruntunglah mereka yang mendapatkan pakaian terbaik ini. Al-Musnid Al-Habib Umar Al-Hafizh mengatakan bahwa pakaian taqwa ini dibagi-bagikan oleh Allah diantaranya di majelis-majelis ta’lim, di majelis-majelis dzikir, dsb. Maka mereka yang hendak memiliki pakaian ini hendaknya pergi ke tempat-tempat tersebut untuk bisa mendapatkannya.

Sitrullah juga bisa berbentuk tutup kepada jalan-jalan ma’shiat. Jika kita berniat untuk berbuat durhaka, dan kita telah mulai bergerak untuk mewujudkannya, namun kita tak kunjung mendapatkan jalan untuk mewujudkannya, maka itulah sitrullah. Adakalanya Allah gagalkan rencana jahat kita dengan melemahkan anggota gerak kita dengan penyakit. Bukan ma’shiat yang kita wujudkan, malah ampunan atas dosa-dosa kita yang kita dapat. Karena setiap penyakit yang dirasakan seorang Muslim/Muslimah merupakan penghapus dosa dan pengangkat derajat baginya. Demikianlah Allah Yang Mahapemaksa. Dia Memaksa hamba-Nya untuk mencapai suatu derajat tertentu pada waktu yang telah Dia tentukan. Jika hamba-Nya itu tidak dapat mencapainya dengan ibadah, maka Dia timpakan musibah, yang dengan musibah itu tercapailah derajat tersebut. Maka kita tinggal memilih, ingin mencapainya dengan ibadah, atau dengan musibah.

Terkadang Allah tutup tempat ma’shiat yang kita tuju atau Allah menggerakkan hati kita untuk mensedekahkan seluruh uang yang ingin kita gunakan untuk berma’shiat. Adakalanya Allah dinginkan hati seseorang dari gemerlap duniawi. Demikianlah Allah Al-Ghofurur Rohim.
Ditulis Oleh: Munzir Almusawa
http://www.majelisrasulullah.org

* Renungan lain yang layak di baca

Isyarat
Aspirasi
Hijab
Kuda
Kesenjangan
Polos
Udara
Malam
Puncak
Mimpi
Kodok
Prasangka
Awan
Menunggu
Rumah
Pace/ Mengkudu
Hujan
Puyuh
Cermin
Bayangan
Gunung
Gula
Bendera
Gua
Hidup
Becermin di Telaga Teguran
Mengukur Aib Bersama
Melukis Keindahan Hidup

Memilih Esok di Hari Ini
Sadar dengan Sebuah Kehilangan
Menata Timbangan Diri
Menjual Waktu Dengan Pahala

6 Komentar Add your own

  • 1. mwi  |  8 Mei 2009 pukul 02:40

    yups cocok blog ini, kita tukeran link yuk

    Balas
  • 3. tips  |  8 Mei 2009 pukul 02:41

    sungguh mengagumkan blog ini..
    aku ikutan blog ini terus ah…selamat bekerja pak kyai

    Balas
    • 4. rosehan anwar  |  8 Mei 2009 pukul 12:39

      terima kasih atas komentarnya pak, tapi saya bukan kyai, saya hanyalah orang biasa yang berusaha untuk memperbaiki diri

      Balas
  • 5. sfr  |  20 Agustus 2009 pukul 11:56

    pak anwar lanjutin ngasi info2 ttang dunia islam yach….. smga bapak dpt berkah dari Allah….Amiin……

    Balas
  • 6. Farikha A.M  |  21 Januari 2010 pukul 09:22

    bagus, semoga Allah memberikan keberkahan lewat tulisan2 bapak yang membawa manfaat bagi umat. amien.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


%d blogger menyukai ini: