Lebaran Tidak Lewat Sini

10 September 2009 at 03:27 Tinggalkan komentar

Lebaran Tidak Lewat Sini
oleh Fiyan Arjun

Menghitung bilangan hari Raya Idul Fitri memanglah gampang untuk diucapkan. Bak selaksa membuang air liur tanpa lebih dahulu diproses. Dibuang lantas tak perlu dipikirkan lagi. Namun hal ini beda bila bulan Ramadhan sudah dipenghujung hari. Sehingga tak terasa puasa sudah memasuki dua pekan dari hari pertama berpuasa. Tinggal 14 hari lagi seluruh umat muslimin di dunia akan menuju hari Kemenangan. Menyambut datangnya Hari Raya Idul Fitri dengan suka cita nantinya.

Sayangnya hal itu tidak dirasakan oleh orang yang sangat familiar untuk saya. Dialah kakak perempuan saya. Ia merasa dibuat pusing tujuh keliling bila memikirkan hari Raya Idul Fitri. Atau, lebih dikenal dengan Hari Raya Lebaran. Dimana kakak saya itulah yang merasakan dampak dan efeknya bila hari raya itu tinggalah menjadi bilangan waktu yang akan segera tiba. Apalagi kalau bukan meluluskan permintaan baju Lebaran untuk anak perempuanya. Ironi memang!

“Memang puasa tinggal berapa hari lagi, Yan?” tanya kakak saya itu saat ia sedang membuat bumbu masak untuk lauk pauk berbuka puasa di tengah hari teriknya matahari yang sangat membakar kulit.

“Lha, memangnya nggak tahu kalau puasa tinggal berapa hari lagi,” jawab saya memastikan bahwa kakak saya itu memang benar-benar tidak tahu. Atau, memang ia lagi sibuk membuat bumbu masak jadi tidak tahu-menahu sudah berapa hari puasa terlewati.

“Iya nih habisnya mikirin dagangan lagi sepi dan si Pritha minta baju lebaran lagi. Pusing nih Mpok, Yan!” seru kakak saya sambil mengoseng bumbu masak di dapur yang aroma baunya tercium sampai ke indera penciuman saya hingga…hatcihhh dan saya pun jadi terbersin-bersin. Itu semua karena kenakalan aroma bau bumbu masak yang di oseng kakak saya itu. Terus menggelitiki bulu hidung saya agar merasa ikut menikmati aroma itu. Hmm…untungnya iman saya kuat jadi segala aroma tercium tidak membuat keteguhan saya untuk menjalani ibadah puasa merasa terganggu sedikit pun. Apalagi sampai jebol. Ih, nggak kali,,,Malu sekali kalau hal itu sampai terjadi. Malu sama keponakan saya yang sekarang ini lagi belajar puasa sampai penuh. Pol! Puasa sebulan penuh. Jikalau hal itu bisa terjadi malu dong saya sebagai pamannya. Kok begitu aja tidak kuat tahan iman. Cape deh!

Saya yang melihat kegelisahan kakak saya yang memikirkan anak perempuannya yang—masih duduk dibangku kelas 6 SD itu merasa cukup prihatin selaku saya sebagai adiknya. Dikarenakan anak perempuannya itu tak mengerti juga untuk segera dibelikan baju Lebaran tanpa melihat kondisi orangtuanya (Ibunya) itu yang notabene kakak saya itu. Tidak mengerti kalau kondisi keuangan kakak saya itu lagi tak menentu hingga membuat ia semakin jadi tak konsentrasi menjalankan ibadahnya. Hmm…ternyata susah juga ya jadi orang tua?

Jika saya melihat rasa kegelisahan saat-saat menjelang hari Raya Idul Fitri yang dialami kakak saya itu jadi teringat kawan saya yang belum lama ini curhat dengan saya. Lagi-lagi tentang Hari Raya Idul Fitri yang sebentar lagi tiba. Ya, walau lain kasus tapi tujuannya sama. Yakni, sama-sama gelisah untuk menghadapi hari raya nanti itu.

“Gue belum ada persiapan apa-apa ini, Yan,” ucap kawan saya saat ia membuka topik pembicaraan tentang menjelang Hari Raya Kemenangan itu ketika sedang silturahim ke rumah saya. Kawan saya itu terasa tidak afdhal bila hari raya itu nanti tidak mempersiapkan apa-apa.

“Memangnya ente belum nyiapin apa,” jawab saya memastikan persiapan apa yang belum kawan saya siapi saat itu.

“Gue belum nyiapan THR buat para keponakan gue. Apalagi gue sudah married berarti bukan keponakan gue aja yang perlu di kasih tetapi keponakan bini gue juga, Yan,” terucap sudah apa yang menjadi kegelisahaan kawan saya itu ketika hari-hari puasa hanya tinggal hitungan jari saja.
“Dikira apa! Ya, santai aja lagi. Nggak usah dipikirin kayak begitu. Gue juga banyak keponakan tapi gue santai aja. Kalau ada ya kasih, lha kalau memang nggak ada mau dikata apa,” jawab saya apa adanya.

Kawan saya hanya geleng-geleng kepala saat saya berkata demikian. Ia tak menyangka kalau saya menjawab seperti itu. Seperti saya tak ada beban saat-saat orang lain memikirkan akan datangnya Hari Raya Lebaran nanti tetapi ini saya santai saja. Hingga membuat kawan saya tambah pusing lagi melihat respon saya seperti itu. Ada-ada saja!

Lagi-lagi saya yang melihat keadaan kakak saya dan kawan saya itu saya jadi khawatir jika hari raya sealu didentikan selalu baju baru Lebaran, kue Lebaran, salam tempel serta THR. Wah, bisa-bisa kesakralan hari Raya Idul Fitri sendiri itu akan ternoda dengan hal-hal semacam itu. Hanya karena baju baru Lebaram, kue Lebaran, salam tempel serta THR terus menggelayuti pikiran kakak saya dan kawan saya itu. Kalau sudah begitu bagaimana (mungkin) bisa menjalani ibadah puasa dengan tenang dan khusyu. Bila soal baju baru Lebaran buat anak, salam tempel buat para keponakan, kue Lebaran untuk penyambutan tamu jika bertandang disaat Lebaran hingga THR tidak tepat waktu diberikan oleh perusahaan menjadi hantu disaat hari Raya Idul Fitri sebentar lagi tiba.

Entahlah. Itu membuat saya mengernyitkan kening jika saya melihat apa yang sudah saya alami dari kejadian dua orang yang saya jadikan contoh. Agar saya selalu terus menguatkan ibadah saya agar tidak terusik dengan datang hari Raya Idul Fitri nanti. Toh, lagi pula memangnya Lebaran jadinya juga lewat sini. Begitulah ketika saya melempari joke-joke ketika kalau saya sedang berkumpul dengan kawan-kawan saya yang lainnya jika topiknya selalu membicarakan tentang hari Raya Idul Fitri yang sebentar lagi tiba. Alias, Lebaran yang identik mempersiapkan keperluan ini-itu. Alah, pusing euy…Padahal belum tentu Lebaran lewat sini! Dan mereka yang mendengar guyonon saya seperti itu tentunya akan sejenak melupakan kegelisahannya saat itu. Hmm…aneh bin ajaib menjadi manusia itu ya? Diberi kenikmatan kadang lupa bersyukur. Bukannya berpikir tahun depan bisa bertemu Ramadhan lagi atau tidak. Lha ini malah memikirkan besok Lebaran pakai apa ya? Padahal belum tentu Lebaran tahun depan lewat sini!(fy)

Penulis adalah anggota dan pengurus FLP Jakarta dan penulis buku Bela Diri for Muslimah. Jika ingin bersilaturahim tinggal klik:http://sebuahrisalah.multiply.com/Fb:bujangkumbang@yahoo.co.id.

Ulujami—Pesanggrahan, 14 Ramadhan 1430 H
sumber : eramuslim.com

Entry filed under: Artikel Islami. Tags: .

Nikmat Tuhan Jangan Didustakan Pulang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Random Ayat Alqur’an

Asmaul Husna

Arsip

Add to Technorati Favorites

Jumlah Pengunjung

  • 109,641
Join My Community at MyBloglog!

Masukkan Code ini K1-F9A1B6-E
untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com

my tweet


%d blogger menyukai ini: