Meneladani Yang Maha Besar

1 Mei 2009 at 06:06 Tinggalkan komentar

gunungSemoga Allah Yang Mahabesar mengaruniakan kemampuan pada kita untuk mengenal diri, sehingga kita tidak tertipu topeng duniawi. Saudaraku, mengenal diri adalah syarat untuk menjadi lebih baik. Tidak mungkin kita bisa memperbaiki orang lain, kalau kita tidak bisa memperbaiki diri. Tidak mungkin kita bisa memperbaiki diri, kalau kita tidak berani jujur terhadap diri sendiri.

Allah adalah Al Kabir; Dzat Yang Mahabesar. Jagat raya yang demikian besar sepenuhnya ada dalam genggaman Allah. Demikian pula galaksi, matahari, planet, bumi, dan manusia yang menghuninya ada dalam genggaman Allah SWT. Semua itu teramat kecil dan tak berharga dalam pandangan Allah. Kalau dunia ini seharga sayap nyamuk saja, niscaya Allah tidak akan memberikan kekayaan kepada orang-orang kafir. Itulah sedikit makna Allahu Akbar; Allah Yang Mahabesar.

Karena itu, tatkala kita mendengar kumandang adzan, harusnya semua urusan duniawi menjadi kecil. Bisnis, rapat, pekerjaan, atau uang semuanya menjadi kecil. Allahlah Yang Mahabesar, hingga kita bersegera menuju panggilan tersebut. Begitu pun saat berperang. Seruan Allahu Akbar seharusnya menjadikan musuh-musuh kita menjadi kecil. Dengan memaknai Allahu Akbar tidak akan terlintas dalam diri kita untuk menjadi pengecut dan mundur dari pertempuran. Musuh adalah bonus yang diberikan Allah. Musuh adalah ladang amal. Orang yang mengenal Allah akan menjadikan kalimat laa khaufun ‘alaihim walaahum yahzanun. Tidak ada yang ditakuti kecuali Allah, sebagai prinsip hidupnya.

Menganggap dunia kecil, bukan berarti kita harus meremehkannya. Tujuannya, kita harus mengantisipasi agar tidak menjadi penjilat. Boleh kita bergaul rapat dengan manusia, tapi hati kita jangan pernah berharap dari mereka. Harapan kita hanya kepada Allah semata.

Bila kita mengenal Allah Dzat Yang Mahabesar, maka tidak ada lagi tempat untuk merasa besar. Konsekuensinya bagai pipa U. Semakin mengangkat diri, maka akan semakin jatuh pula kita dibuatnya. Sebaliknya, semakin kita menekan diri ke bawah (rendah hati), maka akan semakin naik pula harga diri kita. Allah SWT sudah mendesain hati kita untuk tidak menyukai kesombongan dan menyukai orang rendah hati. Pertanyaannya, kita termasuk orang yang mana?

Saudaraku, sesungguhnya ingin dihormati adalah salah satu sifat manusia. Karena itu, ketika ia datang menghampiri, segera kita membelokkan. Cukuplah pujian dan penilaian Allah saja. Semakin kita tidak condong kepada dunia, maka kita akan semakin bahagia dalam hidup. Saya teringat sebuah pesan dari seorang alim. “Kamu akan nikmat dalam hidup dan dicukupi kebutuhannya. Satu saja syaratnya, jangan pernah berharap kepada makhluk.” Karena itu, sesulit apapun situasi yang kita hadapi, kita harus mati-matian menjaga kehormatan diri. Kalau kita sudah menengadahkan tangan kepada manusia, pasti jatuh harga diri kita. Boleh saja kita terbatas ekonominya, tapi jangan sekali-kali kita membatasi harga diri kita. Inilah kekuatan iman. Keyakinan akan pertolongan Dzat Yang Mahabesar. Wallaahu a’lam.

oleh : Abdullah Gymnastiar

Entry filed under: Artikel Islami. Tags: , , , , , .

Dunia Makrifat, Dunia Kebahagiaan Superman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Random Ayat Alqur’an

Asmaul Husna

Arsip

Add to Technorati Favorites

Jumlah Pengunjung

  • 109,641
Join My Community at MyBloglog!

Masukkan Code ini K1-F9A1B6-E
untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com

my tweet


%d blogger menyukai ini: