Empat jenis manusia berdasarkan intensitas bicara

27 April 2009 at 06:43 1 komentar

bicara2Manusia dibedakan empat jenis berdasarkan intensitas berbicara. Termasuk Jenis yang Manakah Anda?

Kakek-nenek kita dahulu sering mengatakan, “diam adalah emas”. Bagaimanakah menurut anda? Apakah kata mutiara ini memang kata “mutiara”? Mari kita bahas bersama-sama.

Saya tidak akan (dan tidak suka) completely argumentative yang mengantarkan pada kesimpulan yang sangat relatif dan subjektif. Kita akan menyepakati suatu landasan yang dengannya kita mengacu. Sebagai seorang muslim tentulah landasan yang paling valid adalah kitabullah (Al-Quran) dan sunnah (yang diketahui dari hadist) Nabi saw. Di antara yang paling relevan dengan topik kita adalah hadist nomor 15 dari Hadist Arba’in yang diriwayatkan Imam Bukhari dalam shahihnya yaitu:

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata benar atau diam.” [al hadist]

Dari hadist ini, rasa-rasanya kita sudah bisa menebak bahwa “diam adalah emas” bukanlah konsep yang mutlak benar, namun tidak pula salah sama sekali. Saya merasa ungkapan “diam adalah perak” adalah konsep yang lebih tepat, mengapa? Mari simak pembahasan berikut.

Pada hadist riwayat Imam Bukhari di atas, Nabi saw menganjurkan kita agar berusaha untuk melakukan “berkata benar” terlebih dahulu, jika tidak bisa maka barulah diam dijadikan pilihan selanjutnya. Inilah makna Nabi saw menyebutkan terlebih dahulu fal yaqul khoiro (berkata yang benar) ketimbang yashmut (diam). Di sinilah seorang muslim dituntut untuk membiasakan diri mempertimbangkan kemanfaatan ucapannya sebelum mulutnya terbuka. Jika dirasa lebih bermanfaat maka hendaklah mengatakannya sedangkan jika kesia-siaan atau mudharatnya lebih besar ketimbang manfaatnya hendaklah menahan lisannya. Kembali membuka kitab Hadist Arba’in Imam Nawawi, di nomor 12 kita bisa menemukan hadist riwayat Tirmidzi berikut:

“Merupakan tanda baiknya Islam seseorang, dia meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya.” [al hadist]

Berdasarkan kedua hadist di atas, kita dapat membagi manusia menjadi empat golongan:

Golongan I

Adalah mereka yang banyak bicara dan perkataannya sia-sia. Mereka tidak mempertimbangkan terlebih dahulu apa yang ingin mereka katakan dan mengikuti kecenderungannya yang banyak bicara. Golongan inilah adalah golongan yang paling buruk harus kita hindari karena pertanda Islamnya tidak baik.

Golongan II

Adalah mereka yang mempunyai kecenderungan pendiam namun tidak mendorong diri untuk berbicara yang bermanfaat. Pada beberapa kesempatan dimana ia bisa mengingatkan seseorang atau berbagi ilmu namun tidak ia lakukan. Ini juga prilaku yang harus kita hindari. Kita harus senantiasa berusaha untuk bermanfaat bagi orang lain. Bukankah Nabi saw bersabda, “Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak mamfaatnya bagi orang lain.” [HR Bukhari dan Muslim]

Golongan III

Adalah mereka yang diam karena khawatir akan menimbulkan kesia-siaan jika terlalu banyak bicara. Inilah golongan perak. Rasulullah saw berkata bahwa inilah orang-orang yang baik Islamnya. Namun seharusnya mereka tidak berpuas diri dengan peringkat peraknya. Hendaknya mereka memperdalam ilmu, wawasan, kepekaan, dan keterampilan berbicaranya agar dapat berhijrah ke golongan yang keempat.

Golongan IV

Merekalah para ulama, orang-orang yang berilmu. Nyaring bunyinya tetapi bukan tong kosong. Banyak bicaranya tapi dengan pembicaraannya ia bermanfaat bagi lingkungannya dan pada hakekatnya, dirinya sendiri. Nabi saw telah menobatkan mereka sebagai manusia yang terbaik. Ternyata ungkapan yang benar adalah “banyak bicara* adalah emas” (harap perhatikan tanda bintangnya karena maknanya krusial). Mudah-mudahan kita semua tergolong golongan ini. [kiriman Mohamad Sani, email: mohamad.sani@ui.edu ]
sumber : Hidayatullah.com

Entry filed under: Artikel Islami. Tags: , , , , .

Rasa Takut Yang Produktif Hampir-hampir Minyaknya Bercahaya

1 Komentar Add your own

  • 1. dwi  |  12 Desember 2009 pukul 01:38

    Sebaiknya kita bicara yang benar saja, selebihnya diam lebih baik apabila ungkapan lesan kita membawa ke api neraka

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Random Ayat Alqur’an

Asmaul Husna

Arsip

Add to Technorati Favorites

Jumlah Pengunjung

  • 109,641
Join My Community at MyBloglog!

Masukkan Code ini K1-F9A1B6-E
untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com

my tweet


%d blogger menyukai ini: