Dimensi Kemusyrikan

26 April 2009 at 23:54 Tinggalkan komentar

dimensi-musyrikTak sedikit orang yang mengira bahwa syirik adalah menyekutukan Allah dengan menyembah berhala atau mengaku dirinya sebagai Tuhan seperti yang dilakukan Firaun. Menurut agama, menyekutukan Allah mencakup dimensi yang sangat luas: Dari gaya Firaun yang mengaku sebagai Tuhan sampai cara berfikir bahwa uang adalah segala-galanya.

Orang yang menganggap batu cincin yang dipakainya berkhasiat melariskan dagangannya, sebagai contoh, termasuk musyrik. Meminta keselamatan pada dukun, mohon perlindungan dari jin, dan bahkan bekerja sama dengan jin untuk tujuan-tujuan tertentu, juga termasuk bentuk kemusyrikan. Dalam hal terakhir ini, orang tersebut tidak hanya musyrik karena menganggap jin bisa dimintai pertolongan (QS. 1:5), tapi juga telah mencampuri ‘wilayah gaib’ yang merupakan hak prerogatif Tuhan.

Lebih jauh, Alquran memperingatkan tentang bentuk kemusyrikan yang bercokol di hati manusia dengan mempertanyakan: Pernahkah kau melihat orang-orang yang mempertuhankan hawa nafsunya? (QS. 45:23). Dari ayat ini tampak, siapa saja yang orientasi perbuatannya untuk kepentingan hawa nafsunya, berarti ia menjadi musyrik.

Kesombongan, misalnya, termasuk salah satu bentuk kemuysrikan. Ini karena manusia tak berhak untuk sombong. Rasulullah saw menjelaskan, ”Jika ada setitik kesombongan dalam hati manusia, niscaya Tuhan tak akan memasukkannya ke dalam sorga.” Mengumbar hawa nafsu, sombong, dan merasa paling berkuasa merupakan tiga bentuk kemusyrikan yang sering tak disadari manusia. Nafsu ingin kaya dengan menghalalkan semua cara, seperti korupsi, manipulasi, dan lain-lain penyelewengan — termasuk bentuk kemusyrikan. Merasa dirinya ‘lebih’ dari orang lain sehingga ia merasa berhak untuk ‘berkacak pinggang’ juga termasuk bentuk kemusyrikan. Dan, merasa dirinya paling berkuasa sehingga tidak mau menerima kritik dan saran orang lain, itu pun termasuk bentuk kemusyrikan. Sebab, hanya Allah yang punya kekuasaan mutlak tanpa cacat.

Demikian kompleks dan tersamarnya kemusyrikan, sampai-sampai Sayyidina Ali menyatakan, ”Kemusyrikan itu bagaikan semut hitam yang merambat di ranting hitam di tengah hutan lebat pada malam gelap gulita.” Nah, mari kita selidiki secara cermat, apakah dalam hati kita juga bersemayam kemusyrikan yang demikian sublim tadi. Untuk itu, pertanyaan-pertanyaan ini patut diajukan pada hati sanubari kita.

Apakah kita termasuk majikan yang meniadakan hak-hak pekerjanya; apakah kita termasuk politisi yang sengaja menghilangkan hak-hak rakyat yang diwakilinya; apakah kita termasuk penguasa yang menutup hak-hak rakyat untuk mengoreksi dan mengkritiknya; apakah kita termasuk ibu rumah tangga yang memotong hak-hak para pembantunya; apakah kita termasuk orang yang minta bantuan dukun untuk melicinkan tujuannya; apakah kita termasuk orang yang memiliki jin untuk melindungi bisnisnya? Jika itu terjadi pada diri kita, mari beristighfar dan bertobat.

Sebab, semua itu adalah bentuk-bentuk kemusyrikan yang tersamar. Jika tidak bertobat, Allah akan menimpakaan azab kepada kita di dunia maupun akhirat. Na’udzubillah min dzaalik!

By Syaefudin Simon

Entry filed under: Artikel Islami. Tags: , , , , , , , .

Malu itu baik Kapan Bicara Kapan Mendengar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Random Ayat Alqur’an

Asmaul Husna

Arsip

Add to Technorati Favorites

Jumlah Pengunjung

  • 109,493
Join My Community at MyBloglog!

Masukkan Code ini K1-F9A1B6-E
untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com

my tweet


%d blogger menyukai ini: